Showing posts with label model. Show all posts
Showing posts with label model. Show all posts

Tuesday, 14 July 2015

Pendidikan Multikultural : Kewajiban atau Kebutuhan?

Pendidikan Multikultural Berbasis REF (Respect, Excellent, Friendship) Sebagai Upaya Menjaga Stabilitas Pendidikan Nasional dan Global

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan. Pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembangunan nasional. Oleh karena itu, bangsa yang maju dapat dilihat dari kualitas pendidikannya. Posisi Indonesia sebagai poros perkembangan global, khususnya di wilayah Asia Tenggara, membuat arus globalisasi dengan deras menerpa bangsa Indonesia. Efek derasnya arus globalisasi ini salah satunya adalah berubahnya paradigma pendidikan Indonesia. Paradigma pendidikan Indonesia lebih mengarah pada mengajarkan anak untuk berfikir daripada apa yang seharusnya dipikirkan oleh setiap anak.
Akibat dari perubahan paradigma ini, maka pendidikan Indonesia cenderung untuk mengharuskan anak-anak menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan yang terdistribusi dengan tidak merata dibandingkan dengan menguasai salah satu ilmu pengetahuan yang difokuskan. Hal ini membuat pelajar di Indonesia tidak menyadari, bahwa, dalam pengetahuan yang diterimanya terdapat berbagai interpretasi yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu. Sehingga, dalam pelaksanaanya akan menimbulkan berbagai macam perbedaan. Sebagian besar pelajar Indonesia tidak terbiasa menerima perbedaan-perbedaan tersebut. Pelajar Indonesia menjadi terkesan individualis dalam mengejar prestasi, ditambah kurikulum pendidikan Indonesia yang secara tersirat masih menerapkan kecerdasan sebagai ukuran utama keberhasilan pendidikan menyebabkan pelajar Indonesia berlomba-lomba untuk menjadi yang paling cerdas dalam lingkungan belajarnya.
Untuk itu, sebuah pendidikan multikultural diperlukan untuk memfasilitasi pelajar Indonesia dalam menyadarkan perubahan paradigma pendidikan yang sedang dialaminya. Pendidikan multikultural ini memberikan makna kepada kita, bahwa dalam setiap penyelenggaraan pendidikan harus memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada seluruh anak bangsa, baik secara etnis, gender, fisik, dan religi. Pendidikan multikultural ini akan menyadarkan kita semua, bahwa secara tersirat, tujuan utama dalam proses pendidikan adalah kolaborasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itulah pendidikan multikultural sangat diperlukan. Pendidikan multikultural yang dapat membantu bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan pendidikan nasional harus menganut pada tiga asas, yaitu respect, excellent, and friendship.
Respect atau yang dapat kita maknai sebagai rasa saling menghormati dan menghargai ini merupakan salah satu asas yang harus diterapkan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia sudah dimulai sejak dini atau lebih dikenal dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Satu hal yang menarik dari PAUD ini adalah kurang atau bahkan tidak ditanamkannya pendidikan multikultural yang berasaskan respect kepada anak-anak. Seperti yang kita ketahui, anak-anak usia dini (3-5 tahun) sedang dalam tahap perkembangan kepribadian. Penting bagi setiap stakeholder pendidikan Indonesia untuk secara serius dan terbuka mengakui bahwa PAUD yang ada saat ini bertujuan untuk menyiapkan anak masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bukan untuk menanamkan karakter pada anak tersebut. Akibatnya, kurikulum yang direncanakan untuk pendidikan karakter pun tidak akan pernah tercapai.
Ketika anak-anak usia dini diberikan pendidikan multikultural yang berasaskan respect ini, maka anak akan terbiasa dan menyadari bahwa pendidikan itu merupakan milik seluruh bangsa bukan milik dirinya sendiri. Sifat respect ini akan tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. Pada akhirnya, pendidikan Indonesia ini akan menghasilkan generasi yang saling menghargai dan menghormati antar bangsa, bahkan ketika asas respect ini tumbuh menjadi sebuah kepribadian, maka mereka akan secara naluriah berkolaborasi untuk bersama membangun peradaban yang maju, baik secara regional maupun global.
Excellent atau yang dapat kita maknai sebagai rasa berjuang sampai titik darah penghabisan ini merupakan asas lainnya yang harus diterapkan dalam melaksanakan pendidikan multikultural. Sama seperti sifat respect, sifat excellent ini juga harus diterapkan sejak PAUD. Dengan memahami dan memaknai kedua sifat tersebut maka anak-anak akan menyadari bahwa segala sesuatu tidak dapat diperoleh atau dicapai secara instan, semua harus dilakukan dengan penuh perjuangan dengan cara berkolaborasi. Dengan pendidikan multikultural yang berbasis pada asas excellent ini, maka para pelaku pendidikan Indonesia akan sadar bahwa segala perbedaan yang ada dalam pendidikan pada hakikatnya merupakan sebuah proses untuk menciptakan sebuah peradaban yang lebih baik.
Semangat perjuangan yang dimiliki anak-anak Indonesia melalui pendidikan multikultural berasaskan excellent ini akan memberikan dampak positif bagi perkembangan dan pembangunan nasional. Sejalan dengan perkembangan dan pembangunan nasional tersebut, semangat perjuangan ini akan dibawa oleh bangsa Indonesia untuk menjalin kolaborasi dengan bangsa-bangsa lain baik ditingkat regional maupun dunia, semangat perjuangan ini akan membuat hubungan yang baik dengan bangsa-bangsa di dunia.
Friendship atau yang dapat kita maknai sebagai rasa persahabatan ini merupakan asas terakhir yang harus ada dalam setiap pelaksanaan pendidikan multikultural di Indonesia. Dengan rasa persahabatan yang tinggi maka pendidikan di Indonesia tidak akan mengenal yang namanya persaingan. Namun, yang akan dikenal adalah semangat perjuangan untuk bersama mewujudkan cita-cita bangsa, berkolaborasi dengan rasa saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada untuk membangun peradaban yang lebih maju, dan menciptakan stabilitas nasional yang kuat dan kokoh.
Pendidikan multikultural berbasis REF tersebut dapat membuat paradigma pendidikan Indonesia menjadi lebih maju dan lebih segar. Dengan REF, tidak akan ada lagi kasus-kasus seperti perkelahian antar pelajar, ataupun kecurangan saat ujian, karena REF ini memfasilitasi anak-anak Indonesia untuk menyadari perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap manusia, baik gender, ras, etnis, religi, maupun tingkat kecerdasan. Pendidikan multikultural ini akan berhasil apabila diterapkan pada PAUD. Butuh waktu 5,10, atau bahkan 20 tahun untuk dapat menikmati buah keberhasilan penerapan pendidikan multikultural berbasis REF ini, karena kita saat ini percaya bahwa pendidikan tidaklah instan, segala sesuatunya merupakan sebuah proses berkelanjutan.
Setelah program pendidikan multikultural berbasis REF ini mampu diterapkan dengan baik dan benar di Indonesia, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kedepannya, dengan rasa saling menghargai, dengan semangat perjuangan yang tinggi, serta dengan persahabatan yang kuat akan membawa bangsa Indonesia kepada peradaban yang lebih maju. Selain itu, dengan REF ini akan maka stabilitas pendidikan nasional Indonesia akan selalu terjaga, dan dengan terjaganya stabilitas pendidikan nasional ini, maka bangsa Indonesia akan dengan mudah menjalin kolaborasi dengan bangsa-bangsa di dunia dalam upaya mewujudkan peradaban dunia yang lebih maju dan baik lagi.
Dengan program pendidikan multikultural berbasis REF ini, Indonesia pada akhirnya dapat menjadi poros pendidikan global yang akan berkolaborasi dengan bangsa-bangsa di dunia dalam menciptakan dan menjaga stabilitas pendidikan global, sehingga pada akhirnya pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh bangsa di dunia.  

Monday, 13 July 2015

Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)

Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) - Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran alternatif yang dapat kita coba gunakan dalam merancang sebuah pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) ini mengutamakan pembelajaran secara bersama dengan memasangkan peserta didik yang kemudian mereka menemukan pengetahuan mereka sendiri.

TPS

Karakteristik model pembelajaran TPS (Think-Pair-Share) :

  1. Terdapat langkah pembelajaran Think (berfikir). Sehingga siswa memiliki tanggung jawab individu sebelum akhirnya mereka dapat bekerja dengan kelompok.
  2. Tidak memerlukan waktu yang lama dalam pembentukan kelompok. Karena mereka hanya berpasangan (pairs) dengan teman sebangkunya.
  3. Kelompok yang hanya beranggotakan dua orang akan mengurangi kegaduhan kelas yang diakibatkan oleh diskusi dalam kelompok.
  4. Memberikan waktu lebih banyak kepada siswa dalam pengerjaan. Hal ini dikarena dalam pembuatan kelompok yang tidak memerlukan waktu yang lama, kemudian sebelum mengerjakan secara kelompok mereka terlebih dahulu mengerjakan secara individu, serta dalam pendiskusian penyelesaian soal hanya perlu menggabungkan dua pendapat.
  5. Jumlah anggota kelompok yang sedikit (dua) akan mengurangi terjadinya konflik dalam kelompok.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) :

  1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
  3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
  4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
  5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
  6. Guru memberi kesimpulan
  7. Penutup
Kelebihan :

Dalam membagi kelompok secara berpasangan dapat meningkatkan partisipasi siswa, cocok untuk tugas sederhana, lebih banyak kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, interaksi lebih mudah.

Kelemahan :
Dalam membagi kelompok secara berpasangan, banyak kelompok yang melaporkan dan perlu dimonitor, lebih sedikit ide yang muncul, jika ada perselisihan, tidak ada penengah.

Friday, 10 July 2015

Model Pembelajaran Make a Match

Model Pembelajaran Make a Match - Model Pembelajaran Make a Match merupakan sebuah model pembelajaran alternatif yang menyenangkan, inovatif, dan efektif serta efisien. Model Pembelajaran Make a Match ini akan membantu guru dalam menciptakan sebuah pembelajaran yang aktif dan akan membuat siswa lebih bergairah dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

Model Pembelajaran Make a Match ini dibuat oleh Lorna Curran pada tahun 1994. Model Pembelajaran Make a Match biasanya digunakan dalam melakukan evaluasi, yaitu dengan memberikan sebuah pertanyaan dan jawabannya yang kemudian disebarkan kepada seluruh siswa. Siswa kemudian mencari pasangan antara pertanyaan dan jawaban yang sesuai. Untuk lebih lengkapnya, perhatikan langkah-langkah Model Pembelajaran Make a Match

make a match


Langkah-langkah Model Pembelajaran Make a Match :

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
  2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
  7. Demikian seterusnya
  8. Kesimpulan/penutup

Model Pembelajaran Make a Match ini baik digunakan untuk siswa ketika mereka sudah terlihat jenuh atau pasif, sehingga gairah belajar dapat kembali timbul. Seperti halnya model pembelajaran lainnya, Model Pembelajaran Make a Match memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan Model Pembelajaran Make a Match :
  1. Meningkatkan gairah belajar siswa
  2. Membuat siswa menjadi aktif
  3. Pembelajaran menjadi lebih variatif
  4. Tujuan Pembelajaran mudah untuk dicapai
Kekurangan Model Pembelajaran Make a Match :
  1. Membutuhkan ruang belajar yang besar
  2. Apabila guru tidak memiliki kemampuan mengatur kelas, maka siswa akan cenderung bersifat gaduh dan hyper aktif
  3. Sulit untuk menentukan poin
Namun, dari kekurangan-kekurangan yang ada kita dapat meminimalisirnya dengan mengembangkan Model Pembelajaran Make a Match ini setelah kita mencobanya dan melakukan evaluasi terhadap Model Pembelajaran Make a Match ini.

Thursday, 9 July 2015

Model Pembelajaran Mind Maping

Model Pembelajaran Mind Maping – Model pembelajaran merupakan bentuk dari sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran yang menjadi salah satu faktor penting dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Model pembelajaran terdiri dari berbagai jenis dan macam-macam model. Namun, dalam pelaksanaan pembelajaran kita tidak mesti harus menggunakan semua model pembelajaran yang ada. Kita harus pandai dalam meramu dan memilih model pembelajaran yang eketif, efisien, dan strategis yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran dan karakteristik peserta didik kita.

mind maping



Banyak sekali model-model pembelajaran yang berkembang saat ini. Salah satunya adalah model pembelajaran mind maping. Model pembelajaran mind maping ini lebih tepatnya adalah bagaimana mengkonstruk pengetahuan dan pemahaman siswa melalui suatu hierarki atau skema-skema tertentu yang merujuk pada suatu tujuan yang ingin dicapai. 


Model pembelajaran mind maping ini sangat baik digunakan pada mata pelajaran yang mengandalkan logika untuk mendiskripsikan atau mengungkapkan kembali suatu fenomena atau konsep yang ada melalui skema sederhana yang mudah diingat.


Beberapa langkah-langkah dalam melaksanakan model pembelajaran mind maping adalah:

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
  3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
  4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
  5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
  6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

Kelebihan dari model pembelajaran mind maping adalah:

Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban.

Kelemahan dari Model Pembelajaran Mind Maping adalah:

Sangat sulit bagi siswa yang tidak terbiasa dalam merumuskan sutu konsep melalui sebuah skema, sehingga akan ada beberapa siswa yang teringgal dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Demikianlah beberapa informasi terkait Model Pembelajaran Mind Maping. Semoga informasi yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Dan terima kasih anda telah membaca artikel kami yang berjudul Model pembelajaran Mind Maping.



Tag Terkait:

Macam-macam model pembelajaran, pengertian model pembelajaran, model pembelajaran efektif, model pembelajaran terbaik, model pembelajaran siswa sma, smp, sd, model pembelajaran abad 21, perbedaan model, metode, strategi, dan pendekatan, jenis model pembelajaran, contoh model pembelajaran, contoh model pembelajaran kurikulum 2013, model pembelajaran mind maping untuk sma, pengertian mind maping, kelebihan dan kekurangan mind maping, kemampuan mind maping, teknik pelaksanaan mind maping.

Tuesday, 7 July 2015

Model Pembelajaran Artikulasi

Model Pembelajaran Artikulasi - Model pembelajaran Artikulasi merupakan model yang prosesnya seperti pesan berantai, artinya apa yang telah diberikan Guru, seorang siswa wajib meneruskan menjelaskannya pada siswa lain (pasangan kelompoknya). Di sinilah keunikan model pembelajaran ini. Siswa dituntut untuk bisa berperan sebagai ‘penerima pesan’ sekaligus berperan sebagai ‘penyampai pesan.’
artikulasi

Model pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran dimana siswa dibentuk menjadi kelompok kecil yang masing-masing siswa dalam kelompok tersebut mempunyai tugas mewawancarai teman kelompoknya tentang materi yang baru dibahas. Konsep pemahaman sangat diperlukan dalam mode pembelajaran ini.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Artikulasi

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
  3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
  4. Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
  5. Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
  6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa.
  7. Kesimpulan/penutup.Kelemahan dan kelebihan Pembelajaran Artikulasi
Kelemahan dan kelebihan dari pembelajaran artikulasi ini antara lain:
 
Kelemahannya:
 
  • Untuk mata pelajaran tertentu
  • Waktu yang dibutuhkan banyak
  • Materi yang didapat sedikit
  • Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor
  • Lebih sedikit ide yang muncul
  • Jika ada perselisihan tidak ada penengah
Kelebihannya:
 
  • Semua siswa terlibat (mendapat peran)
  • Melatih kesiapan siswa
  • Melatih daya serap pemahaman dari orang lain
  • Cocok untuk tugas sederhana
  • Interaksi lebih mudah
  • Lebih mudah dan cepat membentuknya
  • Meningkatkan partisipasi anak 
Informasi yang disampaikan di atas semoga dapat membantu kita dalam menjawab pertanyaan model pembelajaran artikulasi yang paling efektif, efisien, dan baik. Model pembelajaran artikulasi secara lengkap telah diberikan, semoga model pembelajaran artikulasi ini dapat memberikan manfaat dalam pelaksanaan pembelajaran yang akan kita laksanakan.

model pembelajaran artikulasi ini termasuk model pembelajaran alternatif. Model pembelajaran artikulasi ini dapat diterapkan untuk berbagai mata pelajaran karena sifatnya yang dinamis, karakteristik model pembelajaran artikulasi ini juga cocok untuk menyampaikan pembelajaran yang menyenangkan. Dari kelebihan dan kekurangan model pembelajaran artikulasi di atas kita bisa menyesuaikan pembelajaran agar menarik.

Monday, 6 July 2015

Model Pembelajaran Problem Based Introduction (PBI)

Model Pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) - Banyak beberapa hal yang menjadi pertanyaan kita semua terkait pembelajaran seperti: model pembelajaran efektif, model pembelajaran terbaik, model pembelajaran efektif dan efisien, model pembelajaran terbaru, model pembelajaran kurikulum 2013, model-model pembelajaran, jenis-jenis pembelajaran, macam-macam model pembelajaran, karakteristik model pembelajaran kurikulum 2013.
PBL


Untuk itu kali ini kami akan mencoba sedikit berbagi informasi terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut, yaitu model pembelajaran problem based introduction, model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang sangat baik untuk melatih kemampuan berfikir siswa.

untuk itu dibawah adalah beberapa langkah-langkah pembelajaran based introduction yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Based Introduction (PBI) :

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

Demikianlah sedikit ulasan tentang model pembelajaran Problem Based Inroduction, semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih anda telah membaca artikel yang berjudul Model Pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) 

Silahkan berlangganan melalui emai untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru dari kamu secara penuh dan gratis.


Sunday, 5 July 2015

Model Pembelajaran Jigsaw


Model Pembelajaran Jigsaw – Berbicara tentang model pembelajaran yang efektif pasti kita akan bertanya-tanya, seperti apakah model pembelajaran yang baik, efektif, dan efisien? Atau kita akan bertanya model pembelajaran apakah yang paling baik, efektif, efisien yang dapat dijadikan sebagai model pembelajaran alternatif? Semua pertanyaan itu dapat terjawab apabila kita sudah melaksanakan dan mencoba berbagai model pembelajaran yang ada, dari situlah kita akan mendapatkan model pembelajaran yang paling baik, efektif, dan efisien untuk setiap materi baik sians maupun sosial.

jigsaw
Namun, tidak ada salahnya apabila kita mencoba salah satu model pembelajaran alternatif yang baik digunakan, model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran jigsaw. Jigsaw ini dicetuskan pertama kali oleh Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, dan Snapp pada sekitar tahun 1978. Pada awalnya Jigsaw ini digunakan untuk mengatasi pembelajaran yang monoton dan tidak efektif. Jigsaw ini menjadi model yang paling ngetren digunakan bila kita menggunakan strategi pembelajaran kooperatif.
Jigsaw sendiri sampai saat ini masih digunakan diberbagai sekolah, baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun, model pembelajaran Jigsaw yang digunakan sudah mengalami perkembangan dan modifikasi dari model pembelajaran Jigaw yang pertama kali dicetuskan.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw :

  1. Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
  3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
  4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
  5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
  7. Guru memberi evaluasi
  8. Penutup
Langkah-langkah diatas merupakan langkah-langkah Jigsaw secara umum, tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan materi yang akan kita sampaikan di kelas.

Saturday, 4 July 2015

Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD)

Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) -  Beberapa model pembelajaran alternatif akan coba kami terus berikan dan sampaikan bagi pengunjung setia Physics Explorer. Setelah beberpa waktu kemarin telah berdiskusi tentang model pembelajaran alternatif dan efektif kali ini kami akan memberikan sedikit informasi tentang model pembelajaran alternatif dan efektiff lainnya yaitu model pembeljajaran STAD. model pembelajaran alternatif dan efektif ini hampir sama dengan metode diskusi kelompok.

STAD

Beberapa langkah-langkah pembelajaran alternatif dan efektif yaitu Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) adalah:

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
  2. Guru menyajikan pelajaran
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan olehanggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan padaanggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
  5. Memberi evaluasi 
  6. Kesimpulan
anda dapat mencoba model pembelajaran ini dalam proses belajar mengajar yang akan anda rencanakan. sehingga pembelajaran anda bisa menjadi lebih bervariasi. model pembelajaran alternatif dan efektif ini memang sangat diperlukan dalam sebuah proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran menjadi lebih bermakna. 

Demikianlah beberapa informasi yang dapat kami sampaikan terkait dengan model pembelajaran STAD, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.
 
Terima kasih anda telah berkenan membaca artikel yang berjudul model pembelajaran STAD. Silahkan berlangganan dengan kami untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru terkait macam-macam metode pembelajaran, pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran melalui email secara gratis dan aman tanpa SPAM.

Terus ikuti perkembangan website ini untuk mendapatkan informasi terbaru tentang metode-metode pembelajaran alternatif, model pembelajaran alternatif, strategi pembelajaran alternatif, pendekatan pembelajaran alternatif, metode-metode pembelajaran efektif, model pembelajaran efektif, strategi pembelajaran efektif, pendekatan pembelajaran efektif, metode-metode pembelajaran terbaik, model pembelajaran terbaik, strategi pembelajaran terbaik, pendekatan pembelajaran terbaik.

Friday, 3 July 2015

Model Pembelajaran Kepala Bernomor Terstruktur

Model Pembelajaran Kepala Bernomor Terstruktur -  Pada kesempatan kali ini kami akan kembali berbagi tentang salah satu model pembelajaran alternatif dan efektif yaitu model pembelajaran kepala bernomor terstruktur. Model ini dapat dikatakan sebagai pengembangan dari model pembelajaran kepala bernomor. Banyak dari beberapa guru yang telah mencoba menerapkan model ini dan mendapatkan hasil yang cukup baik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

model belajar


Langkah-langkah model pembelajaran Kepala Bernomor Terstruktur adalah:

  1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
  2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
  3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain.  Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
  4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
  5. Kesimpulan
Itulah langkah-langkah sederhana yang dapat digunakan dalam menerapkan model pembelajaran kepala bernomor terstruktur ini. Tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba salah satu model pembelajaran alternatif ini.

Demikian sediit gambaran mengenai model pembelajaran alternatif yaitu model pembelajaran kepala bernomor terstruktur, semoga apa yang kami sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Terima kasih atas kunjungan anda ke website kami dan terima kasih anda telah membaca artikel kami tentang model pembelajaran kepala bernomor terstruktur.


Thursday, 2 July 2015

Model Pembelajaran Cooperative Script

Model Pembelajaran Cooperative Script - Model pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam pelaksanaan pembelajaran, model ini dapat membuat pembelajaran menjadi lebih variatif dan menyenangkan. Penggunaan model pembelajaran yang bervariasi akan meningkatkan motivasi belajar siswa, karena siswa tidak hanya dihadapkan pada sebuah papan tulis dan presentasi PPT saja. Untuk itu, kecermatan diperlukan dalam penentuan penggunaan model pembelajaran. 

cooperative script

salah satu model pembelajaran yang patut anda coba gunakan adalah model pembelajaran Cooperative Script. Model ini merupakan model belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Cooperative Script adalah:
  1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
  2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
  3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan
  4. Sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
Demikianlah sedikit penjelasan tentang model pembelajaran cooperative script, semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Monday, 29 June 2015

Model Pembelajaran Alternatif (Model Kepala Bernomor Spencer Kagan, 1992)


Model Pembelajaran Alternatif (Model Kepala Bernomor Spencer Kagan, 1992) – Pada kesempatan kali ini PHYEX akan kembali memberikan sedikit informasi yang terkait dengan tentang salah satu model pembelajaran alternatif, model pembelajaran alternatif ini yaitu model Kepala Bernomor. Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992, sudah cukup lama memang model pembelajaran alternatif ini digunakan, namun model ini masih sangat tren digunakan oleh para guru-guru di luar negeri, model pembelajaran alternatif ini dapat dijadikan alternatif dalam variasi pembelajaran sehingga akan menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Karena pembelajaran tidak harus selalu berpusat pada papan tulis dan layar proyektor saja, melainkan dapat menggunakan media yang sederhana. 

Untuk melaksanakannya juga tidaklah sulit, berikut adalah beberapa langkah dalam melaksanakan model pembelajaran alternatif (Kepala Bernomor).

Langkah-langkah Model Pembelajaran (KEPALA BERNOMOR SPENCER KAGAN, 1992)
Langkah-langkah :

1.Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2.Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3.Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4.Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
5.Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6.Kesimpulan

Demikianlah sedikit gambaran tentang model pembelajaran alternatif (Model Kepala Bernomor) yang dapat kami sampaikan, semoga artikel sederhana ini dapat membantu dan bermanfaat bagi kita semua.

Terima Kasih anda telah membaca artikel tentang Model Pembelajaran Alternatif (Model Kepala Bernomor)

Model Pembelajaran Alternatif (Model Picture and Picture)


Model Pembelajaran Alternatif (Model Picture and Picture) – Pada kesempatan kali ini PHYEX akan memberikan sedikit informasi tentang salah satu model pembelajaran alternatif, yaitu model picture and picture. Model pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif dalam variasi pembelajaran sehingga akan menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Karena pembelajaran tidak harus selalu berpusat pada papan tulis dan layar proyektor saja, melainkan dapat menggunakan media yang sederhana. Seperti halnya model pembelajaran picture and picture ini.
Untuk melaksanakannya juga tidaklah sulit, berikut adalah beberapa langkah dalam melaksanakan model pembelajaran alternatif (Model Picture and Picture).

Langkah-langkah Model Pembelajaran Picture and Picture:

1.Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2.Menyajikan materi sebagai pengantar
3.Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
4.Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5.Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6.Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7.Kesimpulan/rangkuman
Demikianlah sedikit gambaran tentang model pembelajaran alternatif (Model Picture and Picture) yang dapat kami sampaikan, semoga artikel sederhana ini dapat membantu dan bermanfaat bagi kita semua.

Terima Kasih anda telah membaca artikel tentang Model Pembelajaran Alternatif (Model Picture and Picture)

Sunday, 28 June 2015

Model Pembelajaran Example Non Example

 Model Pembelajaran Example Non Example- Pada Kesempatan kali ini PE akan memberikan informasi terkait tahapan-tahapan dalam salah satu model pembelajaran yang sudah sangat awam digunakan oleh para guru, yaitu example non example. model pembelajaran ini dapat dilakukan dengan berbagai variasai tergantung karakteristik dari mata pelajaran yang akan disampaikan.

Example non example ini menjadi salah satu model pembelajaran terbaik karena memiliki tahapan-tahapan yang simpel dan juga sederhana, berikut merupakan langkah-langkah model pembelajaran example non example.

CONTOH DAPAT DARI KASUS/GAMBAR YANG RELEVAN DENGAN KI/KD

Langkah-langkah :


1.Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran

2.Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP

3.Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar

4.Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas

5.Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

6.Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai

7.Kesimpulan



Demikian adalah salah satu jenis model pembelajaran terbaik yang dapat digunakan oleh para guru. Semoga apa yang telah disampaikan diatas dapat bermanfaat bagi kita semua.

Silahkan Kunjungi terus web ini untuk model pembelajaran lainnya.