Showing posts with label pendekatan. Show all posts
Showing posts with label pendekatan. Show all posts

Tuesday, 14 July 2015

Pendidikan Multikultural : Kewajiban atau Kebutuhan?

Pendidikan Multikultural Berbasis REF (Respect, Excellent, Friendship) Sebagai Upaya Menjaga Stabilitas Pendidikan Nasional dan Global

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan. Pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembangunan nasional. Oleh karena itu, bangsa yang maju dapat dilihat dari kualitas pendidikannya. Posisi Indonesia sebagai poros perkembangan global, khususnya di wilayah Asia Tenggara, membuat arus globalisasi dengan deras menerpa bangsa Indonesia. Efek derasnya arus globalisasi ini salah satunya adalah berubahnya paradigma pendidikan Indonesia. Paradigma pendidikan Indonesia lebih mengarah pada mengajarkan anak untuk berfikir daripada apa yang seharusnya dipikirkan oleh setiap anak.
Akibat dari perubahan paradigma ini, maka pendidikan Indonesia cenderung untuk mengharuskan anak-anak menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan yang terdistribusi dengan tidak merata dibandingkan dengan menguasai salah satu ilmu pengetahuan yang difokuskan. Hal ini membuat pelajar di Indonesia tidak menyadari, bahwa, dalam pengetahuan yang diterimanya terdapat berbagai interpretasi yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu. Sehingga, dalam pelaksanaanya akan menimbulkan berbagai macam perbedaan. Sebagian besar pelajar Indonesia tidak terbiasa menerima perbedaan-perbedaan tersebut. Pelajar Indonesia menjadi terkesan individualis dalam mengejar prestasi, ditambah kurikulum pendidikan Indonesia yang secara tersirat masih menerapkan kecerdasan sebagai ukuran utama keberhasilan pendidikan menyebabkan pelajar Indonesia berlomba-lomba untuk menjadi yang paling cerdas dalam lingkungan belajarnya.
Untuk itu, sebuah pendidikan multikultural diperlukan untuk memfasilitasi pelajar Indonesia dalam menyadarkan perubahan paradigma pendidikan yang sedang dialaminya. Pendidikan multikultural ini memberikan makna kepada kita, bahwa dalam setiap penyelenggaraan pendidikan harus memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada seluruh anak bangsa, baik secara etnis, gender, fisik, dan religi. Pendidikan multikultural ini akan menyadarkan kita semua, bahwa secara tersirat, tujuan utama dalam proses pendidikan adalah kolaborasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itulah pendidikan multikultural sangat diperlukan. Pendidikan multikultural yang dapat membantu bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan pendidikan nasional harus menganut pada tiga asas, yaitu respect, excellent, and friendship.
Respect atau yang dapat kita maknai sebagai rasa saling menghormati dan menghargai ini merupakan salah satu asas yang harus diterapkan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia sudah dimulai sejak dini atau lebih dikenal dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Satu hal yang menarik dari PAUD ini adalah kurang atau bahkan tidak ditanamkannya pendidikan multikultural yang berasaskan respect kepada anak-anak. Seperti yang kita ketahui, anak-anak usia dini (3-5 tahun) sedang dalam tahap perkembangan kepribadian. Penting bagi setiap stakeholder pendidikan Indonesia untuk secara serius dan terbuka mengakui bahwa PAUD yang ada saat ini bertujuan untuk menyiapkan anak masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bukan untuk menanamkan karakter pada anak tersebut. Akibatnya, kurikulum yang direncanakan untuk pendidikan karakter pun tidak akan pernah tercapai.
Ketika anak-anak usia dini diberikan pendidikan multikultural yang berasaskan respect ini, maka anak akan terbiasa dan menyadari bahwa pendidikan itu merupakan milik seluruh bangsa bukan milik dirinya sendiri. Sifat respect ini akan tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. Pada akhirnya, pendidikan Indonesia ini akan menghasilkan generasi yang saling menghargai dan menghormati antar bangsa, bahkan ketika asas respect ini tumbuh menjadi sebuah kepribadian, maka mereka akan secara naluriah berkolaborasi untuk bersama membangun peradaban yang maju, baik secara regional maupun global.
Excellent atau yang dapat kita maknai sebagai rasa berjuang sampai titik darah penghabisan ini merupakan asas lainnya yang harus diterapkan dalam melaksanakan pendidikan multikultural. Sama seperti sifat respect, sifat excellent ini juga harus diterapkan sejak PAUD. Dengan memahami dan memaknai kedua sifat tersebut maka anak-anak akan menyadari bahwa segala sesuatu tidak dapat diperoleh atau dicapai secara instan, semua harus dilakukan dengan penuh perjuangan dengan cara berkolaborasi. Dengan pendidikan multikultural yang berbasis pada asas excellent ini, maka para pelaku pendidikan Indonesia akan sadar bahwa segala perbedaan yang ada dalam pendidikan pada hakikatnya merupakan sebuah proses untuk menciptakan sebuah peradaban yang lebih baik.
Semangat perjuangan yang dimiliki anak-anak Indonesia melalui pendidikan multikultural berasaskan excellent ini akan memberikan dampak positif bagi perkembangan dan pembangunan nasional. Sejalan dengan perkembangan dan pembangunan nasional tersebut, semangat perjuangan ini akan dibawa oleh bangsa Indonesia untuk menjalin kolaborasi dengan bangsa-bangsa lain baik ditingkat regional maupun dunia, semangat perjuangan ini akan membuat hubungan yang baik dengan bangsa-bangsa di dunia.
Friendship atau yang dapat kita maknai sebagai rasa persahabatan ini merupakan asas terakhir yang harus ada dalam setiap pelaksanaan pendidikan multikultural di Indonesia. Dengan rasa persahabatan yang tinggi maka pendidikan di Indonesia tidak akan mengenal yang namanya persaingan. Namun, yang akan dikenal adalah semangat perjuangan untuk bersama mewujudkan cita-cita bangsa, berkolaborasi dengan rasa saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada untuk membangun peradaban yang lebih maju, dan menciptakan stabilitas nasional yang kuat dan kokoh.
Pendidikan multikultural berbasis REF tersebut dapat membuat paradigma pendidikan Indonesia menjadi lebih maju dan lebih segar. Dengan REF, tidak akan ada lagi kasus-kasus seperti perkelahian antar pelajar, ataupun kecurangan saat ujian, karena REF ini memfasilitasi anak-anak Indonesia untuk menyadari perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap manusia, baik gender, ras, etnis, religi, maupun tingkat kecerdasan. Pendidikan multikultural ini akan berhasil apabila diterapkan pada PAUD. Butuh waktu 5,10, atau bahkan 20 tahun untuk dapat menikmati buah keberhasilan penerapan pendidikan multikultural berbasis REF ini, karena kita saat ini percaya bahwa pendidikan tidaklah instan, segala sesuatunya merupakan sebuah proses berkelanjutan.
Setelah program pendidikan multikultural berbasis REF ini mampu diterapkan dengan baik dan benar di Indonesia, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kedepannya, dengan rasa saling menghargai, dengan semangat perjuangan yang tinggi, serta dengan persahabatan yang kuat akan membawa bangsa Indonesia kepada peradaban yang lebih maju. Selain itu, dengan REF ini akan maka stabilitas pendidikan nasional Indonesia akan selalu terjaga, dan dengan terjaganya stabilitas pendidikan nasional ini, maka bangsa Indonesia akan dengan mudah menjalin kolaborasi dengan bangsa-bangsa di dunia dalam upaya mewujudkan peradaban dunia yang lebih maju dan baik lagi.
Dengan program pendidikan multikultural berbasis REF ini, Indonesia pada akhirnya dapat menjadi poros pendidikan global yang akan berkolaborasi dengan bangsa-bangsa di dunia dalam menciptakan dan menjaga stabilitas pendidikan global, sehingga pada akhirnya pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh bangsa di dunia.  

Thursday, 9 July 2015

Pendekatan Kontruktivistik

Pendekatan Kontruktivistik - Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan. 

Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.

kontruktivisme

Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Olek karena itu , guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan unutk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi.

Jadi pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).

Konstrukstivisme Individu Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya

Konstrukstivisme Sosial Berbeda dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.

Ciri-ciri pendekatan konstruktivisme
  • Dengan adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
  • Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa.
  • Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari

Prinsip Pendekatan konstruktivisme Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Konstruktivime akan mengaktifkan siswa secara aktif sehingga pembelajaran yang didapat oleh siswa lebih didasarkan pada proses pencapaian pengetahuan itu bukan pada hasilnya. Prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Suparno (1999:73) ada beberapa prinsip dari konstruktivisme antara lain:
  • Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif .
  • Tekanan dalam pembelajaran terletak pada siswa.
  • Mengajar adalah membantu siswa belajar.
  • Tekanan dalam pembelajaran lebih pada proses bukan pada akhir .
  • Kurikulum menekankan pada partisipasi siswa.
  • Guru adalah fasilitator.
Sedangkan menurut Brooks & Brooks (dalam Subana, 2001:47)”prinsip konstruktivisme yaitu:
  • Ajukan masalah yang relevan dengan siswa,
  • Struktur pembelajaran pada konsep-konsep eensial,
  • Usahakan menemukan dan menilai pandangan siswa,
  • Adaptasikan kurikulum, dan
  • Ukur belajar siswa dalam konteks belajar.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme antara lain siswa aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuan baru sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dalam mengkonstruksikan pengetahuan tersebut sebagaimana tuntunan kurikulum.

Karakteristik Pembelajaran Konstruktivisme Adapun karakteristik pendekatan konstruktivisme menurut Driver (dalam Paul, 1996:69) bahwa karakteristik pembelajaran konstruktivisme adalah:
  1. Orientasi ialah siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik
  2. Elicitasi ialah membantu siswa untuk mengungkapkan idenya secara jelas
  3. Retrukturisasi ide terdiri dari klarifikasi ide, membangun ide yang baru, mengevaluasi ide baru dengan eksperimen
  4. Penggunaan ide dalam banyak situasi
  5. Review adalah bagaimana ide itu berubah.
Sedangkan menurut Smorgansbord (1997:54)) menyatakan beberapa karakteristik tentang konstruktivisme yaitu :
  1. Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya
  2. Belajar merupakan penasiran personal tentang dunia
  3. Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna diembangkan berdasarkan pengalaman
  4. Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi
  5. Belajar harus disituasikan dalam kehidupan yang nyata.

Langkah Pelaksanaan Pendekatan Konstruktivisme Langkah pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, menurut Nurhadi (2003:39) bahwa penerapan konstruktivisme muncul dengan lima langkah pembelajaran yaitu sebagai berikut:
  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, Pengetahuan awal yang sudah dimiliki peserta didik akan menjadi dasar awal untuk mempelajari informasi baru. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara pemberian pertanyaan terhadap materi yang akan dibahas.
  2. Pemerolehan pengetahuan baru
Sedangkan menurut Kunandar (2007:307) langkah-langkah pembelajaran konstruktivisme antara lain :
  1. carilah dan gunakanlah pertanyaan dan gagasan siswa untuk menuntun pelajaran dan keseluruhan unit pembelajaran
  2. Biarkan siswa mengemukakan gagasan-gagasan mereka dulu 
  3. Kembangkan kepemimpinan, kerja sama, pencarian informasi, dan aktivitas siswa sebagai hasil dalam proses belajar
  4. Gunakan pemikiran, pengalaman, dan minat siswa untuk mengarahkan proses pembelajaran
  5. Kembangkan penggunakan alternatif sumber informasi baik dalam bentuk bahan tertulis maupun bahan-bahan para pakar.
  6. Usahakan agar siswa mengemukakan sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa
  7. Carilah gagasan-gagasan siswa sebelum guru menyajikan pendapatnya.
  8. Buatlah agar siswa tertantang dengan konsepi dan gagasan-gagasan mereka sendiri
  9. Sediakan waktu cukup untuk berefleksi dan menganalisis menghormati gagasan siswa
  10. Doronglah siswa untuk melakukan analisis sendiri, mengumpulkan bukti nyata untuk mendukung gagasannya sesuai dengan pengetahuan baru yang dipelajarinya
  11. Gunakanlah masalah yang diidentifikasikan oleh siswa sesuai dengan minantya dan dampak yang akan ditimbulkannya
  12. Gunakan sumber-sumber lokal sebagai sumber informasi asli yang digunakan dalam pemecahan masalah.
  13. Libatkan siswa dalam mencari pemecahan masalah yang ada dalan kenyataan.
  14. Perluas belajar seputar jam pelajaran, ruangan kelas, dan lingkungan sekolah.
  15. Pusatkan perhatian pada dampak sains pada setiap individu siswa
  16. Tekankan kesadaran karir terutama yang berhubungan dengan sains dan teknologi”.

Kelebihan Pendekatan Konstruktivisme Dalam penerapannya, pendekatan konstruktivisme memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Ella (2004:55) menjelaskan bahwa pendekatan konstruktivisme membantu siswa menguasai tiga hal , yaitu:
  1. Siswa diajak memahami dan menafsirkan kenyataan dan pengalamannya yang berbeda.
  2. Siswa lebih mampu mengatasi masalah dalam kehidupan nyata.
  3. Pemahaman konstruktivisme, yaitu membangun dan mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan dan keahlian dalam situasi kehidupan nyata.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan konstruktivisme memiliki berbagai kelebihan antara lain:
  1. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme siswa akan aktif dalam pembelajaran
  2. Menjadikan proses pembelajaran tersebut menyenangkan dan lebih bermakna bagi siswa
  3. Siswa membangun sendiri pengetahuannya maka siswa tidak mudah lupa dengan pengetahuannya
  4. Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan sehingga siswa tidak cepat bosan belajar
  5. Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka, karena setiap jawaban siswa ada penilaiannya
  6. Memupuk kerjasama dalam kelompok.

Dengan adanya kelebihan pada pendekatan konstruktivisme ini maka siswa di harapkan dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai cara, jadi peserta didik akan terlatih untuk dapat menerapkannya dengan situasi yang berbeda atau baru.

Kekurangan Pendekatan Konstruktivisme Selain memiliki kelebihan pendekatan konstruktivisme juga memiliki kekurangan. Namun kekurangan ini dapat kita atasi seperti:
  1. Siswa masih kesulitan dalam menemukan sendiri jawabannya
  2. Membutuhkan waktu yang lama terutama bagi siswa yang lemah
  3. Siswa yang pandai kadang-kadang tidak sabar dalam menanti temannya yang belum selesai.
Dari uraian tadi dapat disimpulkan kelemahan pendekatan konstruktivisme dapat ditolerir, maka guru hendaknya dapat membimbing siswa agar dapat menemukan jawabannya, kemudian guru menambah waktu belajar bagi siswa yang lemah dalam proses pembelajaran, serta memberikan nasehat agar menghargai teman dalam belajar Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Wednesday, 8 July 2015

Pendekatan Deduktif

Pendekatan Deduktif - Pembelajaran dengan pendekatan deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional yaitu guru memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Dalam bidang ilmu sains dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama siswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. 

Pendekatan Deduktif


Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Menurut Setyosari (2010:7) menyatakan bahwa “Berpikir deduktif merupakan proses berfikir yang didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus dengan menggunakan logika tertentu.” Hal serupa dijelaskan oleh Sagala (2010:76) yang menyatakan bahwa: Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan khusus. Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa “Pendekatan deduktif merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.” Dalam pendekatan deduktif menjelaskan hal yang berbentuk teoritis kebentuk realitas atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. 

Disini guru menjelaskan teori-teori yang telah ditemukan para ahli, kemudian menjabarkan kenyataan yang terjadi atau mengambil contoh-contoh. Dari penjelasan beberapa teori dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan deduktif adalah cara berfikir dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.

Penggunaan Pendekatan Deduktif Menurut Yamin (2008:89) pendekatan deduktif dapat dipergunakan bila:
  1. Siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari,
  2. Isi pelajaran meliputi terminologi, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan proses berfikir kritis,
  3. Pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicaraan yang baik,
  4. Waktu yang tersedia sedikit.

Langkah-langkah Pendekatan Deduktif Menurut Sagala (2010:76) langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan deduktif dalam pembelajaran adalah
  1. Guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan deduktif,
  2. Guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum, lengkap dengan definisi dan contoh-contohnya,
  3. Guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus dengan aturan prinsip umum,
  4. Guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan khusus itu merupakan gambaran dari keadaan umum.

Kelebihan Pendekatan Deduktif Adapun kelebihan dari pendekatan deduktif dibandingkan dengan pendekatan lain adalah :
  1. Tidak memerlukan banyak waktu.
  2. Sifat dan rumus yang diperoleh dapat langsung diaplikasikan kedalam soal-soal atau masalah yang konkrit.

Kelemahan Pendekatan Deduktif Kelemahan pendekatan deduktif antara lain:
  1. Siswa sering mengalami kesulitan memahami makna matematika dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan siswa baru bisa memahami konsep setelah disajikan berbagai contoh.
  2. Siswa sulit memahami pembelajaran matematika yang diberikan karna siswa menerima konsep matematika yang secara langsung diberikan oleh guru.
  3. Siswa cenderung bosan dengan pembelajaran dengan pendekatan deduktif, karna disini siswa langsung menerima konsep matematika dari guru tanpa ada kesempatan menemukan sendiri konsep tersebut.
  4. Konsep tidak bisa diingat dengan baik oleh siswa.

Pendekatan Induktif

Pendekatan Induktif - Berbeda dengan pendekatan deduktif yang menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat umum, maka pendekatan induktif (inductif approach) menyimpulkan permasalahan dari hal-hal yang bersifat khusus.. Metode induktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus. Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. 

pendekatan induktif


Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum. Sedangkan menurut Yamin (2008:89) menyatakan bahwa: Pendekatan induktif dimulai dengan pemberian kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan, menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut. 

Mengajar dengan pendekatan induktif adalah cara mengajar dengan cara penyajian kepada siswa dari suatu contoh yang spesifik untuk kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu aturan prinsip atau fakta yang pasti. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan induktif adalah pendekatan pengajaran yang berawal dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu kesimpulan, prinsip atau aturan.

Penggunaan Pendekatan Induktif
 
Menurut Yamin (2008:90) pendekatan induktif tepat digunakan manakala:
  1. Siswa telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut,
  2. Yang diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara pribadi, sikap, pemecahan, dan pengambilan keputusan,
  3. Pengajar mempunyai keterampilan fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan terampil mengulang pertanyaan, dan sabar,
  4. Waktu yang tersedia cukup panjang.

Langkah-langkah Pembelajaran Pendekatan Induktif 

Menurut Sagala (2010:77) langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan induktif yaitu:
  1. Memilih dan mementukan bagian dari pengetahuan (konsep, aturan umum, prinsip dan sebagainya) sebagai pokok bahasan yang akan diajarkan.
  2. Menyajikan contoh-contoh spesifik dari konsep, prinsip atau aturan umum itu sehingga memungkinkan siswa menyusun hipotesis (jawaban sementara) yang bersifat umum.
  3. Kemudian bukti-bukti disajikan dalam bentuk contoh tambahan dengan tujuan membenarkan atau menyangkal hipotesis yang dibuat siswa.
  4. Kemudian disusun pernyataan tentang kesimpulan misalnya berupa aturan umum yang telah terbukti berdasarkan langkah-langkah tersebut, baik dilakukan oleh guru atau oleh siswa.

Kelebihan Pendekatan Induktif 

Adapun kelebihan dari pendekatan induktif dibandingkan dengan pendekatan antara lain adalah :
  1. Memberikan kesempatan pada siswa untuk berusaha sendiri atau menemukan sendiri suatu konsep sehingga akan diingat dengan lebih baik.
  2. Murid memahami sifat atau rumus melalui serangkaian contoh. Kalau terjadi keraguan mengenai pengertian dapat segera diatasi sejak masih awal.
  3. Dapat meningkatkan semangat belajar siswa.
Kelemahan Pendekatan Induktif

Kelemahan dari pendekatan induktif antara lain :
  1. Memerlukan banyak waktu.
  2. Kadang-kadang hanya sebagian siswa yang terlibat secara aktif.
  3. Sifat dan rumus yang diperoleh masih memerlukan latihan atau aplikasi untuk memahaminya.
  4. Secara matematik (formal) sifat atau rumus yang diperoleh dengan pendekatan induktif masih belum menjamin berlaku umum.

Tuesday, 7 July 2015

Pendekatan Konsep

Pendekatan Konsep - Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. 

pendekatan konsep

Ciri-ciri suatu konsep adalah
  1. Konsep memiliki gejala-gejala tertentu
  2. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung
  3. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya
  4. Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman
  5. Konsep yang benar membentuk pengertian
  6. Setiap konsep berbeda dengan melihat ciri-ciri tertentu
Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:
  1. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.
  2. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.
  3. Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang kompleks.
  4. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.

Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep

Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu,
  1. Tahap Enaktik
  2. Tahap enaktik dimulai dari:
    • Pengenalan benda konkret.
    • Menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa pengalaman baru.
    • Pengamatan, penafsiran tentang benda baru.
  3. Tahap Simbolik
  4. Tahap simbolik siperkenalkan dengan: Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf. kode, seperti (?=,/) dll. Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya. Memberi nama, dan istilah serta defenisi.
  5. Tahap Ikonik
  6. Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak, seperti: Menyebut nama, istilah, definisi, apakah siswa sudah mampu mengatakannya.

Monday, 6 July 2015

Pendekatan Pembelajaran Proses

Pendekatan Pembelajaran Proses - Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya. 
pembelajaran proses


Kelebihan Pendekatan Proses

Keunggulan/Kelebihan pendekatan proses adalah :
  1. Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting untuk pengembangan pengetahuan dan masa depan.
  2. Pendahuluan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan.
Kelemahan Pendekatan Proses

Kelemahan pendekatan proses adalah :
  1. Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum.
  2. Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat menyediakannya.
  3. Merumuskan masalah, menyusun hipotesis, merancangkan suatu percobaan untuk memperoleh data yang relevan adalah pekerjaan yang sulit, tidak semua siswa mampu melaksanakannya.

Pendekatan Matematika Realistik

Pendekatan Matematika Realistik - Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Hans Frudenthal di Belanda. Realistic Mathematics Education (RME) adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang ‘real’ bagi siswa, menekankan ketrampilan ‘proses of doing mathematics’, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehinggga mereka dapat menemukan sendiri (‘student inventing’ sebagai kebalikan dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun secara kelompok. (Zulkardi, 2009) 
 RME

Pengertian pendekatan realistik menurut Sofyan, (2007: 28) “sebuah pendekatan pendidikan yang berusaha menempatkan pendidikan pada hakiki dasar pendidikan itu sendiri”. Menurut Sudarman Benu, (2000: 405) “pendekatan realistik adalah pendekatan yang menggunakan masalah situasi dunia nyata atau suatu konsep sebagai titik tolak dalam belajar matematika”. Matematika Realistik yang telah diterapkan dan dikembangkan di Belanda teorinya mengacu pada matematika harus dikaitkan dengan realitas dan matematika merupakan aktifitas manusia. 

Dalam pembelajaran melalui pendekatan realistik, strategi- strategi informasi siswa berkembang ketika mereka menyeleseikan masalah pada situasi- situsi biasa yang telah diakrapiniya, dan keadaan itu yang dijadikannya titik awal pembelajaran pendekatan realistik atau Realistic Mathematic Education(RME) juga diberi pengertian “cara mengajar dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelediki dan memahami konsep matematika melalui suatu masalah dalam situasi yang nyata”. (Megawati, 2003: 4). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran bermakna bagi siswa. Realistic Mathematic Education(RME) adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak pada hal- hal yang real bagi siswa(Zulkardi). 

Teori ini menekankan ketrampilan proses, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri(Student Invonting), sebagai kebalikan dari guru memberi(Teaching Telling) dan pada akhirnya murid menggunakan matematika itu untuk menyeleseikan masalah baik secara individual ataupun kelompok. Pada pendekatan Realistik peran guru tidak lebih dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator. Sementara murid berfikir, mengkomunikasikan argumennya, mengklasifikasikan jawaban mereka, serta melatih saling menghargai strategi atau pendapat orang lain. 

Menurut De Lange dan Van Den Heuvel Parhizen, RME ini adalah pembelajaran yang mengacu pada konstruktifis sosial dan dikhususkan pada pendidikan matematika.(Yuwono: 2001) Dari beberapa pendapat diatas dapat dikatakan bahwa RME atau pendekatan Realistik adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari- hari sebagai sumber inspirasi dalam pembentukan konsep dan mengaplikasikan konsep- konsep tersebut atau bisa dikatakan suatu pembelajaran matematika yang berdasarkan pada hal- hal nyata atau real bagi siswa dan mengacu pada konstruktivis sosial.

Tujuan Pendekatan Realistik (RME) sebagai berikut:
  1. Menjadikan matematika lebih menarik,relevan dan bermakna,tidak terlalu formal dan tidak terlalu abstrak
  2. Mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa.
  3. Menekankan belajar matematika “learning by doing”.
  4. Memfasilitasi penyelesaian masalah matematika tanpa menggunakan penyelesaian yang baku.
  5. Menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika.
(kuiper&kouver,1993)

Prinsip-Prinsip Pendekatan Realistik (RME) Terdapat 5 prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik, yaitu:
  1. Menggunakan konsep atau situasi.
  2. Menggunakan model : "model of" dan "model for"
  3. Menggunakan hasil pemikiran siswa sendiri.
  4. Interactivity.
  5. Intertwinning (saling mengaitkan suatu konsep dengan konsep lainnya).

Gravemeijer(dalam Fitri. 2007: 10) menyebutkan tiga prinsip kunci dalam pendekatan realistik, ketiga kunci tersebut adalah:
  • Penemuan kembali secara terbimbing/ matematika secara progresif(Gunded Reinvention/ Progressive matematizing). Dalam menyeleseikan topik- topik matematika, siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama, sebagai koknsep- konsep matematika dikemukakan. Siswa diberikan masalah nyata yang memungkinkan adanya penyeleseian yang berbeda.
  • Didaktif yang bersifat fenomena(didaktial phenomology) topik matematika yang akan diajarkan diupayakan berasal dari fenomenan sehari-hari.
  • Model yang dikembangkan sendiri(self developed models) dalam memecahkan ‘contextual problem”, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri. Pengembangan model ini dapat berperan dalam menjembatani pengetahuan informal dan pengetahuan formal serta konkret dan abstrak.

Karakteristik Pendekatan Realistik (RME) Menurut Grafemeijer (dalam fitri, 2007: 13) ada 5 karakteristik pembelajaran matematika realistik, yaitu sebagai berikut:
  1. Menggunakan masalah kontekstual, Masalah konsektual berfungsi sebagai aplikasi dan sebagai titik tolak dari mana matematika yang digunakan dapat muncul. Bagaimana masalah matematika itu muncul(yang berhubungan dengan kehidupan sehari- hari).
  2. Menggunakan model atau jembatan, Perhatian diarahkan kepada pengembangan model, skema, dan simbolisasi dari pada hanya mentrasfer rumus. Dengan menggunakan media pembelajaran siswa akan lebih faham dan mengerti tentang pembelajaran aritmatika sosial.
  3. Menggunakan kontribusi siswa, Kontribusi yang besar pada saat proses belajar mengajar diharapkan dari konstruksi murid sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal ke arah metode yang lebih formal. Dalam kehidupan sehari- hari diharapkan siswa dapat membedakan pengunaan aritmatika sosial terutama pada jual beli. Contohnya: harga baju yang didiskon dengan harga baju yang tidak didiskon.
  4. Interaktivitas, Negosiasi secara eksplisit, intervensi, dan evaluasi sesama murid dan guru adalah faktor penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jembatan untuk menncapai strategi formal. Secara berkelompok siswa diminta untuk membuat pertanyaan kemudian diminta mempresentasikan didepan kelas sedangkan kelompok yang lain menanggapinya. Disini guru bertindak sebagai fasilitator.
  5. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya(bersifat holistik), Aritmatika sosial tidak hanya terdapat pada pembelajaran matematika saja, tetapi juga terdapat pada pembelajaran yang lainnya, misalnya pada akutansi, ekonomi, dan kehidupan sehari- hari.

Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik Berdasarkan prinsip dan karakteristik PMR serta dengan memperhatikan pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah disusun suatu langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMR yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

Langkah 1: Memahami masalah kontekstual 

yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari kepada siswa dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut,serta memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan masalah yang belum di pahami. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah karakteristik pertama yaitu menggunakan masalah kontekstual sebagai titik tolak dalam pembelajaran, dan karakteristik keempat yaitu interaksi 

Langkah 2: Menjelaskan masalah kontekstual

jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami 

Langkah 3 : Menyelesaikan masalah 

Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini yaitu karakteristik kedua menggunakan model 

Langkah 4 : Membandingkan jawaban

 Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan. Dipilih kelompok berpasangan, dengan pertimbangan efisiensi waktu. Karena di sekolah tempat pelaksanaan ujicoba, menggunakan bangku panjang. Sehingga kelompok dengan jumlah anggota yang lebih banyak, membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pembentukannya.Sedangkan kelompok berpasangan tidak membutuhkan waktu, karena siswa telah duduk dalam tatanan kelompok berpasangan. Setelah diskusi berpasangan dilakukan, guru menunjuk wakil-wakil kelompok untuk menuliskan masing-masing ide penyelesaian dan alasan dari jawabannya, kemudian guru sebagai fasilitator dan modarator mengarahkan siswa berdiskusi, membimbing siswa mengambil kesimpulan sampai pada rumusan konsep/prinsip berdasarkan matematika formal (idealisasi, abstraksi). Karakteristik PMR yang muncul yaitu interaksi

Langkah 5: Menyimpulkan

 Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah adanya interaksi antar siswa dengan guru. 

Kelebihan Pembelajaran Matematika Realistik Beberapa keunggulan/kelebihan dari pembelajaran metematika realistik antara lain:
  1. Pelajaran menjadi cukup menyenangkan bagi siswa dan suasana tegang tidak tampak.
  1. Materi dapat dipahami oleh sebagian besar siswa.
  1. Alat peraga adalah benda yang berada di sekitar, sehingga mudah didapatkan.
  1. Guru ditantang untuk mempelajari bahan.
  1. Guru menjadi lebih kreatif membuat alat peraga.
  1. Siswa mempunyai kecerdasan cukup tinggi tampak semakin pandai.

Kelemahan Pembelajaran Matematika Realistik, Beberapa kelemahan dari pembelajaran metematika realistik antara lain: 

  1. Sulit diterapkan dalam suatu kelas yang besar(40- 45 orang). 
  2. Dibutuhkan waktu yang lama untuk memahami materi pelajaran. 
  3. Siswa yang mempunyai kecerdasan sedang memerlukan waktu yang lebih lama untuk mampu memahami materi pelajaran.

Sunday, 5 July 2015

Pendekatan Pembelajaran Open - Ended

Pendekatan Pembelajaran Open-Ended - Menurut Suherman dkk (2003; 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan dengan Open-Ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. 

open ended


Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban, namun beberapa atau banyak. Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut. 

Contoh penerapan masalah Open-Ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir.

Kelebihan pendekatan Open–Ended. 

Dalam pendekatan open-ended guru memberikan permasalah kepada siswa yang solusinya tidak perlu ditentukan hanya melalui satu jalan. Guru harus memanfaatkan keragaman cara atau prosedur yang ditempuh siswa dalam menyelesaikan masalah. Hal tersebut akan memberikan pengalaman pada siswa dalam menemukan sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan cara berfikir matematik yang telah diperoleh sebelumnya. Ada beberapa kelebihan dari pendekatan ini, antara lain:
  1. Siswa memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara lebih aktif serta memungkinkan untuk mengekspresikan idenya.
  1. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak menerapkan pengetahuan serta keterampilan matematika secara komprehensif.
  1. Siswa dari kelompok lemah sekalipun tetap memiliki kesempatan untuk mengekspresikan penyelesaian masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri.
  1. Siswa terdorong untuk membiasakan diri memberikan bukti atas jawaban yang mereka berikan.
  1. Siswa memiliki banyak pengalaman, baik melalui temuan mereka sendiri maupun dari temannya dalam menjawab permasalahan.
Kelemahan Pendekatan Open–Ended. 

Disamping kelebihan yang dapat diperoleh dari pendekatan open-ended, terdapat juga beberapa kelemahan, diantaranya: 

  1. Sulit membuat atau menyajikan situasi masalah Fisika yang bermakna bagi siswa.
  2. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahamai siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
  3. Karena jawaban bersifat bebas, siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka. 
  4. Mungkin ada sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.

Saturday, 4 July 2015

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual - Seperti yang telah kita ketahui bahwa pendekatan pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan sebuah pembelajaran. Pendekatan ini akan menjadi alur dalam terciptanya sebuah pembelajaran yang bermakna. Selain itu pembelajaran akan menjadi penentu keberhasilan penerapan model, metode, dan strategi pembelajaran yang ada. 

CTL


Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). 

Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya. 

Pendekatan konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.pendekatan kontekstual sendiri dilakukan dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran yang efektif yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian sebenarnya. Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu :
  1. Mengaitkan. adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
  2. Mengalami. merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
  3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
  4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
  5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan dalam Pendekatan Kontekstual Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut :

  1. Guru yang berwawasan. Maksudnya yaitu guru yang berwawasan dalam penerapan dan pendekatan.
  2. Materi dalam pembelajaran.Dalam hal ini guru harus bisa mencari materi pembelajaran yang dijiwai oleh konteks perlu disusun agar bermakna bagi siswa.
  3. Strategi metode dan teknik belajar dan mengajar.Dalam hal ini adalah bagaimana seorang guru membuat siswa bersemangat belajar, yang lebih konkret, yang menggunakan realitas, lebih aktual, nyata/riil, dsb.
  4. Media pendidikan.Media yang digunakan dapat berupa situasi alamiah, benda nyata, alat peraga, film nyata yang mana perlu dipilih dan dirancang agar sesuai dan belajar lebih bermakna.
  5. Fasilitas.Media pendukung pembelajaran kontekstual seperti peralatan dan perlengkapan, laboratorium, tempat praktek, dan tempat untuk melakukan pelatihan perlu disediakan.
  6. Proses belajar dan mengajar. Hal ini ditujukan oleh perilaku guru dan siswa yang bernuansa pembelajaran kontekstual yang merupakan inti dari pembelajaran kontekstual.
  7. Kancah pembelajaran.Hal ini perlu dipilih sesuai dengan hasil yang diinginkan.
  8. Penilaian.Penilaian/evaluasi otentik perlu diupayakan karena pada pembelajaran ini menuntut pengukuran prestasi belajar siswa dengan cara- cara yang tepat dan variatif, tidak hanya dengan pensil atau paper test.
  9. i) Suasana.Suasana dalam lingkungan pembelajaran kontekstual sangat berpengaruh karena dapat mendekatkan situasi kehidupan sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan siswa.

Karakteristik Pembelajaran CTL

  1. Kerjasama.
  2. Saling menunjang.
  3. Menyenangkan, tidak membosankan.
  4. Belajar dengan bergairah.
  5. Pembelajaran terintegrasi.
  6. Menggunakan berbagai sumber.
  7. Siswa aktif.
  8. Sharing dengan teman.
  9. Siswa kritis guru kreatif.
  10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
  11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain

Tahapan-tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual Tahapan pelaksanaan pembelajaran kontekstual antara lain :

  1. Mengkaji materi pelajaran yang akan diajarkan.
  2. Mengkaji konteks kehidupan siswa sehari-hari.
  3. Memilih materi pelajaran yang dapat dikaitkan dengan kehidupan siswa.
  4. Menyusun persiapan proses KBM yang telah memasukkan konteks dengan materi pelajaran.
  5. Melaksanakan proses belajar mengajar kontekstual.
  6. Melakukan penilaian otentik terhadap apa yang telah dipelajari siswa.

Kelebihan pendekatan Kontekstual

  1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
  2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

Kelemahan Pendekatan Kontekstual

  1. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.

     (Disadur dan disintesis dari fun knowledge)

Friday, 3 July 2015

Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning)

Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) - Mastery learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menganut azas ketuntasan belajar. Belajar tuntas (Mastery Learning) adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat. 

Konsep belajar tuntas adalah proses belajar yang bertujuan agar bahan ajaran dikuasai secara tuntas, artinya cara menguasai materi secara penuh. Belajar tuntas ini merupakan strategi pembelajaran yang diindividualisasikan dengan menggunakan pendekatan kelompok. Dengan sistem belajar tuntas diharapkan proses belajar mengajar dapat dilaksanakan agar tujuan instruksional yang akan dicapai dapat diperoleh secara optimal sehingga proses belajar lebih efektif dan efisien, (Sukmadinata, Nana Syaodih, 2005).

mastery learning

Tolok ukur yang digunakan pada pencapaian hasil belajar dengan pendekatan tersebut adalah tingkat kemampuan siswa per orang, bukan per kelas. Dengan demikian, siswa yang memiliki tingkat kecerdasan atau penguasaan pengetahuan dan keterampilan diatas rata-rata kelas, siswa yang bersangkutan berhak memperoleh pengayaan materi atau melanjutkan ke unit kompetensi selanjutnya, sebaliknya apabila siswa tersebut belum mampu mencapai standar kompetensi yang diharapkan maka siswa tersebut harus mengikuti program perbaikan (remedial) materi.

Dalam pelaksanaannya peserta didik memulai belajar dari topik yang sama dan pada waktu yang sama pula. Perlakuan awal belajar terhadap siswa juga sama. Siswa yang tidak dapat menguasai seluruh materi pada topik yang dipelajarinya mendapat pelajaran tambahan sehingga mencapai hasil yang sama dengan kelompoknya. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengan kelompoknya dalam kelas.

Pendekatan dalam proses belajar-mengajar adalah menyertai siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dalam rangka membantu memahami, melaksanakan dan menyimpulkan dari materi yang diberikan guru sehingga siswa merasa terbimbing, terarah sesuai tujuan pembelajaran yang dikehendaki dalam suasana yang bebas dari ketertekanan dan menyenangkan.

Teknik pendekatan yang dipilih adalah salah satu cara guru melakukan inovasi dan terobosan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Kegiatan pendekatan terhadap siswa dalam penelitian tindakan kelas ini diwujudkan dalam partisipasi siswa dan guru dalam menghadapi tugas-tugas siswa. Partisipasi dimaksudkan sebagai keterlibatan mental dan emosi serta fisik anggota dalam memberikan inisiatif terhadap kegiatan yang dilancarkan oleh organisasi serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya (Suryo Suroto, 2002:280).

Pendekatan belajar tuntas (mastery learning) dapat dilaksanakan dan mempunyai efek meningkatkan motivasi belajar intrinsik. Pendekatan ini mengakui dan mengakomodasi semua siswa yang mempunyai berbagai tingkat kemampuan, minat, dan bakat tadi asal diberikan kondisi-kondisi belajar yang sesuai. Dalam penelitian ini, partisipasi yang dimaksud adalah keikutsertaan atau keterlibatan siswa kelas XI dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh guru dalam hal ini adalah proses pembelajaran dalam kelas maupun pemberian tugas-tugas sebagai tahap menyiapkan diri pada saat ujian semester nantinya. Dari uraian tersebut kehadiran siswa sangat dominan dalam kegiatan.

Menurut Ahmadi, Abu, dkk. (2005) ada beberapa ciri belajar tuntas (mastery learning), yaitu :

  1. Siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan harapan pengajar.
  2. Bakat seorang siswa dalam bidang pengajaran dapat diramalkan, baik tingkatannya maupun waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan tersebut. Bakat berfungsi sebagai indeks tingkatan belajar siswa dan sebagai suatu ukuran satuan waktu.
  3. Tingkat hasil belajar bergantung pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya
  4. Tingkat belajar sama dengan ketentuan, kesempatan belajar bakat, kualitas pengajaran, dan kemampuan memahami pelajaran.
  5. Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi dan kualitas pengajaran yang berdiferensiasi pula.

Para pengembang konsep belajar tuntas mendasarkan pengembangan pengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut (Sukmadinata, Nana Syaodih, 2005) :

  1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran.
  2. Guru menyusun strategi pengajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa.
  3. Sesuai dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satuan-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut.
  4. Selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.
  5. Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acuan patokan.
Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedang siswa yang lambat dapatmenggunakan waktu lebih banyak atau lama sampai menguasai secaratuntas bahan yang diberikan

Menurut Mariana, Alit Made, (2003:21), menyatakan tiga hal kelebihan pembelajaran tuntas, yaitu:
  1. Pembelajaran tuntas lebih efektif daripada pembelajaran yang tidak menganut paham pembelajaran tuntas. Keunggulan pembelajaran tuntas termasuk juga pencapaian siswa dan retensi (daya tahan konsep yang dipelajari) lebih tahan lama.
  2. Efisiensi belajar siswa secara keseluruhan lebih tinggi pada pembelajaran tuntas daripada pembelajaran yang tidak menerapkan pembelajaran tuntas. Siswa yang tergolong lambat menguasai standar kompetensi secara tuntas dapat belajar hampir sama dengan siswa yang mempunyai kemampuan lebih tinggi.
  3. Sikap yang ditimbulkan akibat siswa mengikuti pembelajaran tuntas positif, dibandingkan dengan pembelajaran yang tidak menganut faham pembelajaran tuntas. Adanya sikap positif dan rasa keingintahuan yang besar terhadap suatu materi subyek yang dipelajarinya. Sikap positif  lainnya misalnya adanya rasa percaya diri yang berarti, kemauan belajar secara kooperatif satu dengan yang lainnya, dan sikap yang positif terhadap pembelajaran dengan memberikan perhatian yang besar. Pembelajaran remedial (remedial learning) merupakan bagian dari proses pembelajaran secara menyeluruh untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan atau ditetapkan.
Menurut Mariana, Alit Made, (2003:24) juga menyatakan tentang kelemahan belajar tuntas diantaranya adalah :

  1. Guru-guru yang sudah terlanjur menggunakan teknik lama sulit beradaptasi.
  2. Memerlukan berbagai fasilitas, dan dana yang cukup besar. Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari andar yang ditetapkan.
  3. Diberlakukannya sistem ujian (UAS dan UAN) yang menuntut penyelenggaraan program bidang studi pada waktu yang telah ditetapkan dan usaha persiapan siswa untuk menempuh ujian.